Home Berita Menuju Arafah (7): ‘Auf dan Totalitas Qurban

Menuju Arafah (7): ‘Auf dan Totalitas Qurban

by Humas IAIN Palangka Raya
0 comment 252 views

Oleh: Ahmad Dakhoir (PPIH Kloter BDJ 3)

Selain menjalankan etape demi etape rukun haji, dzulhijjah juga dikenal sebagai bulan berkorban. Berkorban apa saja, termasuk korban perasaan.

Keteladanan berkorban yang menarik untuk kita resapi bersama adalah apa yang dicontohkan oleh sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin ‘Auf.

‘Auf merupakan saudagar kaya raya. Setiap hari, ia berdoa meminta kepada Allah agar menjadi orang yang fakir. Namun keinginan itu, berlalu begitu lama, dan tak kunjung menjadi orang fakir.

Pada akhirnya, ‘Auf menghadap kepada Rasulullah. Ia bertanya kepada Rasul tentang harta yang dimilikinya. Ya Rasul, betulkah harta umat Islam termasuk miliku ini semuanya akan dihisab? Rasul menjawab, betul wahai ‘Auf. Semakin banyak harta yang engkau miliki semakin panjang pula hisabnya. Mendengar jawaban tersebut, ‘Auf semakin banyak berbhakti, bersedekah dan berinfaq. Hari-hari ia bersedekah 500 dinar (saat ini setara dengan 2,1 milyar rupiah). Ia juga sering melakukan investasi sosial hingga 1000 dinar, bahkan 2000 dinar dalam satu hari, dan sering juga sedekah hingga 200 uqiyah emas setiap minggu.

Tujuan sedekah bukan apa-apa, semata-mata supaya hartanya segera habis dan cita-cita menjadi orang fakir segera terwujud.

Tapi anehnya, setiap ia berbagi seperti itu, besoknya langsung berganti berlipat-lipat dari yang dikorbankan.

Merasakan hari-hari seperti itu, ia menghadap Rasulullah lagi dan meminta agar mendoakannya menjadi orang fakir. Tak lama kemudian, Kota Madinah dilanda paceklik. Semua ladang kurma terkena hama dan membuat buah kurma menjadi rusak. Akibatnya, buah kurma penduduk tidak laku dipasaran, ditumpuk saja didepan rumah-rumah dan akhirnya membusuk.

Melihat fenomena itu, ‘Auf tampil dengan membeli begitu saja semua kurma-kurma busuk itu. Tanpa menawar, ia beli kurma busuk dengan harga norma dan terbaik selaiknya kurma terbaik di Madinah. Bagi yang tidak ingin menjual, kurma dihargai berkali-kali lipat, agar kurma yang tidak bermanfaat itu menjadi uang dan bisa digunakan untuk membeli kebutuhan penduduk.

Tak berselang lama, rumah ‘Auf berubah total, karena seluruh halaman telah menggunung kurma busuk. Pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang. Namun baginya, inilah ekspektasi seorang ‘Auf menjadi fakir telah terwujud. Benar saja, beberapa hari, ‘Auf sudah tidak memiliki simpanan harta dan uang, karena semuanya telah dibelanjakan untuk membeli kurma busuk warga.

‘Auf segera bergegas kerumah Rasulullah dan menyapa, ya Rasulullah terimakasih engkau telah mendoakanku sebagaimana engkau. Hari ini aku betul-betul tenang dan sangat gembira wahai Rasulullah. Melihat keceriaan ‘Auf, Rasul hanya tersenyum dan bangga melihat sahabatnya yang sangat cinta kepada tuhannya dan mengamalkan perintah-perintahnya.

Selang sehari pasca kejadian borong memborong itu, sahabat dari Ansor mendapat selebaran langsung dari utusan Raja Yaman. Bahwa Raja dan tim kesehatan Kerajaan Yaman ingin mencari kurma yang sangat busuk sebanyak-banyaknya untuk digunakan sebagai bahan baku obat penyakit yang melanda Yaman. Mendengar pengumuman itu, warga tertuju kepada ‘Auf. Warga mengatakan kepada utusan, agar silakan menuju rumah ‘Auf karena baru kemaren beliau memborong kurma busuk warga Madinah.

Tidak sulit mencari rumah ‘Auf, karena ciri rumahnya sangat mudah diketahui yaitu satu-satunya rumah yang didepannya bertumpuk-tumpuk menggunung kurma busuk.

Singkat cerita, setiba di depan rumah, utusan membeli semua kurma busuk milik ‘Auf. Namun ‘Auf tidak mau menerima pembelian. Dialog berjalan alot. Hingga utusan memaksa membeli kurma busuk itu dengan berkali-kali lipat. ‘Auf tak bergeming. Aku tidak menjual kurma busuk ini. Ini kurma yang sangat tidak bermanfaat. Untuk ala engkau hendak beli kurma buruk ini. Utusan akhirnya menyampaikan amanah Raja Yaman, kurma busuk adalah obat dan ia adalah satu-satunya obat yang tepat untuk mengobati pandemi warga Yaman.

Mendengar itu, ‘Auf kemudian berkata, jika kurma ini betul-betul bermanfaat menjadi obat, wahai utusan ambillah kurma ini semua. Aku tidak menjualnya. Manfaatkanlah kurma itu untuk wargamu. Utusan sangat bingung menghadapi sikap ‘Auf seperti itu.

Utusan itupun segera mengangkut berton-ton kurma busuk dengan cepat. Dan menggantinya dengan berkarung-karung dinar di letakkan di depan rumah ‘Auf. Seluruh pasukan yang membawa karung-karung dinar tak henti menaruhnya tepat di halaman rumah dan seketika halaman berganti menjadi gunungan harta emas dan uang dinar.

Setelah selesai, utusan mengucapkan terima kasih kepada ‘Auf atas bantuan kurma busuknya. Dan mereka pamit kembali menuju Yaman.

Ini apa-apaan. Keping-keping dinar berhambur didepan rumah ‘Auf. ”Auf bergegas berlari sambil menangis menuju rumah Rasulullah. Ya Rasul, bukankah aku minta padamu, agar aku bisa menjadi warga yang sangat fakir, tapi mengapa hanya karna kurma busuk, harta benda itu kembali lagi ya Rasul. Lalu Rasul menjawab, bukankah doaku sudah Allah kabulkan wahai ‘Auf? Kemudian ‘Auf menjawab, betul ya Rasul, hanya beberapa hari ya Rasul. Rasulullah hanya tersenyum jenaka kemudian memeluk sahabatnya itu dan berkata, hartamu itu untuk kemaslahatan umat, dan dengarkan wahai ‘Auf janganlah takut dengan banyaknya harta yang engkau miliki, karena Allah SWT telah menjamin engkau bahwa engkau adalah salah satu sahabatku yang dijamin masuk ke dalam sorga.

Total harta Abdurrahman bin ‘Auf setelah wafat sejumlah 2.560.000 dinar, jika di kurs ke rupiah berjumlah kurang lebih 10.880 triliun rupiah. Itulah ‘Auf, sahabat Rasulullah yang gagal miskin, sahabat yang dijamin masuk surga, sahabat yang setiap hari berkorban untuk kemajuan umat Islam dan kemajuan bangsa dan negara Madinah saat itu. Wallahualam bishshawab.

You may also like

HUMAS/AUAK

IAIN PALANGKA RAYA

Kampus Itah News

Fakultas

Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

COPYRIGHT © 2018-2023 HUMAS IAIN PALANGKA RAYA

PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK