AMARAH

by Humas IAIN Palangka Raya
0 comment 32K views

IAIN PALANGKA RAYA – Fadli Rahman : Amarah atau kemarahan pada dasarnya merupakan sesuatu yang wajar dan pernah dialami oleh semua individu. Hanya saja, tingkat kapasitasnya bisa berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Di satu sisi, manusia harus melepaskan semua amarah dari dalam dirinya agar memperoleh suatu “kelegaan”, lepas dari suatu beban berat. Namun di sisi lain, tentu saja dituntut cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan kemarahan tersebut. Sebab jika tidak, maka hal itu bisa merusak kualitas hidup si individu dan juga tatanan kehidupan yang sudah tertata dengan baik. Intinya, individu dimaksud harus mampu mengendalikan kemarahannya sebelum kemarahan itu justru berbalik mengendalikan hidupnya. Sebab, jika telah terjadi, maka keadaan ini akan berpengaruh pada kemampuan si individu berinteraksi secara baik dengan orang lain, seperti teman dekat, orangtua, istri-anak, rekan kerja, maupun atasan-bawahan. Bahkan ketika Presiden ”marah” akibat komunikasi ke para menterinya macet, pun hal tersebut bisa berimbas dilakukannya reshuffle kabinet.

Apa itu Amarah?

Amarah adalah salah satu bentuk emosi manusia  yang sepenuhnya bersifat normal, wajar dan sehat. Setiap individu pasti pernah marah, yang tentunya disertai dengan berbagai alasan.  Namun, meski merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, jika tidak dikendalikan dengan tepat dan bersifat destructive, maka amarah akan berpotensi besar untuk menimbulkan masalah baru, seperti masalah di tempat kerja, keluarga, atau pun pada hubungan interpersonal. Tidak heran jika dalam Kitab Suci al-Qur’an dikatakan: …Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. [Q. S. Ali ‘Imran: 119]. Sekalipun dalam kronologisnya ayat dimaksud berbeda dengan yang ingin diulas dalam tulisan ini, namun yang menjadi fokus obyeknya adalah sama, yakni sama-sama terkait dengan “kemarahan”. Lebih jauh lagi, dalam kajian metafisika Islam dikatakan:

“Marah itu berasal dari syeitan, dan syeitan itu diciptakan dari api. Sementara api dapat dipadamkan oleh air. Maka apabila seseorang di antara kalian sedang marah, hendaklah ia berwudhu’ atau mandi.”[HR. Muslim]

Faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu external dan internal. Faktor external adalah hal-hal yang datang dari luar diri si individu. Contoh: Kita marah kepada atasan atau bawahan kita; kita juga bisa menjadi marah karena terjebak macet akibat penutupan jalan, dan sebagainya. Di samping hal-hal external tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang ada dari dalam diri kita sendiri [internal). Dengan kata lain, ada unfinished business [persoalan yang tidak tuntas], yang bisa memicu kita untuk marah. Contoh: Ketakutan atau kekhawatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatic atau pun kenangan pahit di masa lalu.

Temperamental

Sehubungan dengan kemarahan, dalam keseharian sering dijumpai individu-individu yang gampang marah. Mereka bisa marah terhadap apa saja, siapa saja dan kapan saja. Individu seperti ini biasa disebut “Temperamental”, yakni individu yang punya temperament tinggi, atau “pemberang”. Individu-individu ini sering terlihat  “ngedumel”, KZL (selalu merasa kesal), menggerutu, memboikot atau menarik diri dari pergaulan (merajuk), berteriak, bahkan sampai melemparkan barang-barang atau mengeluarkan atau menuliskan kata-kata tidak seharusnya untuk dikatakan/ditulis dalam media sosial.

Ekspresi luar dari kemarahan pun dapat ditemukan dalam bentuk raut mukabahasa tubuh, respons psikologis, dan kadang-kadang tindakan agresi publik. Manusia dan hewan – sebagai contoh – ketika sedang marah, dapat mengeluarkan suara keras, upaya untuk tampak lebih besar secara fisik, memamerkan gigi mereka, atau melotot. Marah adalah suatu pola perilaku yang dirancang untuk memperingatkan pengganggu untuk menghentikan perilaku mengancam mereka. Para Psikolog menunjukkan bahwa orang yang marah sangat mungkin melakukan kesalahan karena kemarahan menyebabkan kehilangan kemampuan pengendalian diri dan penilaian objektif  mereka.

Sementara itu, juga dijumpai beberapa individu yang  jarang terlihat marah, bahkan seolah-olah tidak pernah marah. Mereka tidak meluapkan kemarahan dengan cara “meledak-ledak”, tetapi lebih terlihat santuy saja, paling-paling hanya sebatas menggerutu atau mengeluh.

Individu yang mudah menjadi marah biasanya adalah mereka yang memiliki tingkat toleransi rendah terhadap suatu tekanan atau hal-hal yang menyebabkan rasa frustrasi (low tolerance for frustration). Individu seperti ini menganggap bahwa mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang tidak menyenangkan, sulit mengambil hikmah dari setiap situasi, tidak mampu untuk ber-possitive thinking, hingga menjadi marah ketika situasi “tidak berpihak” kepada mereka.

Beberapa Pendekatan

Kita tidak mungkin menghilangkan atau menghindari sesuatu yang menjadi penyebab kemarahan. Kita pun akan sulit – bahkan mustahil – untuk bisa mengubah orang lain agar tidak membuat kita marah. Satu hal yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan emosi kita sendiri. Dalam rangka menyalurkan dan mengendalikan kemarahan dimaksud, ada baiknya jika kita mencoba untuk mencermati 3 (tiga) pendekatan di bawah ini.

Pertama, ekspresikan kemarahan melalui komunikasi yang bersifat asertif – tidak agresif. Komunikasi asertif  adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Perilaku asertif ini dapat ditunjukkan ketika kita dengan tegas dan positif mengekspresikan diri kita, tanpa maksud mengalah dan juga menyerang orang lain. Kunci utama dalam berkomunikasi secara asertif adalah “i Message”, sampaikan perasaan, pikiran, atau opini Anda. tidak ada satu kekuatan pun di dunia yang dapat menghambat anda untuk berkomunikasi. Itulah mengapa setiap manusia berhak memiliki asertivitas pada segala komunikasi dan interaksi yang mereka miliki dengan orang-orang di sekitarnya.

Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya sendiri, dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhannya secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun merugikan pihak lainnya. Dapat terlihat dengan jelas bahwa asertivitas tidak memberikan kerugian apapun pada diri kita sendiri, dan juga orang lain.

Untuk bisa melakukan hal ini maka kita harus belajar menentukan kebutuhan-kebutuhan kita, dan bagaimana cara pemenuhannya, tanpa harus memanipulasi atau menyakiti orang lain. Dengan bertindak asertif, berarti kita menghormati diri kita sendiri dan orang lain.

Kedua, jangan pikirkan lagi masalah tersebut. Cobalah untuk memfokuskan diri pada sesuatu yang positif. Tujuannya adalah agar dapat mengurangi rasa marah yang sedang meluap, dan mengubahnya menjadi tindakan yang konstruktif. Contoh: Ketika sedang marah, maka kita justru bekerja lebih lama dan produktif.  Sayangnya, pendekatan dengan cara “mengalihkan perhatian” seperti ini bisa merugikan diri sendiri. Artinya, jika kemarahan yang ditekan tersebut sudah sangat banyak dan tidak pernah dikeluarkan, maka dapat mengakibatkan hipertensi, depresi (kecemasan yang mendalam), atau pun tekanan darah tinggi. Disinyalir dalam suatu tulisan bahwa meski kemarahan akan menimbulkan suasana tidak enak, tapi mengeluarkan kemarahan akan bermanfaat bagi kesehatan mental. Terus menerus memendam amarah dan rasa frustasi hanya akan menimbulkan reaksi fisik dan emosional yang negatif seperti tekanan darah tinggi dan kecemasan.

Ketiga, cobalah untuk menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam, dan meredakan emosi melalui pengucapan “mantra” seperti: “Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja” ataupun kalimat lainnya yang bersifat “mendamaikan” kejiwaan kita. Kalimat bernada positif yang ditanamkan ke hati dan pikiran ini diyakini mampu untuk sedikit banyak meredakan kemarahan seseorang, yang dalam Islam – biasanya – dianjurkan juga untuk mengucap Ta’awudz, karena diyakini bahwa kemarahan yang datang tersebut berasal dari Syeithan. Termasuk juga dalam hal ini, ketika amarah datang, maka segera mengambil jarak dari sumber penyebab kemarahan, berusaha untuk membuat diri kita merasa “sejuk”, dan tidak “panas” melalui “sentuhan” spiritual [hadits di atas menyarankan untuk ber-wudhu‘ atau mandi], untuk kemudian mencoba mengendalikan emosi yang sedang bergejolak di dalam diri kita sendiri dengan melihat semua permasalahan yang muncul dan memicu kemarahan tersebut secara obyektif dan seimbang. Dengan demikian, diharapkan agar amarah yang ada dalam diri kita bisa berangsur-angsur mereda. [FR]

You may also like

Leave a Comment

HUMAS/AUAK

IAIN PALANGKA RAYA

Kampus Itah News

Fakultas

Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

COPYRIGHT © 2018-2023 HUMAS IAIN PALANGKA RAYA

PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK